Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern

Mengenal Aunur Rafiq Lebih Dekat

Kisah-kisah Inspirasi dari sosok Pemimpin Karimun di masa lalu

Di tengah lajunya perkembangan Kabupaten Karimun akhir-akhir ini, terdapat sosok yang telah mengabdikan dan mewakafkan dirinya selama bertahun-tahun sebagai seorang Birokrat tulen awalnya, yang telah meniti karir dari bawah hingga mencapai jabatan Bupati Karimun.

Dia Aunur Rafiq seorang yang memiliki impian besar terhadap Pembangunan Kabupaten Karimun. Rafiq merupakan panggilan akrabnya. Rafiq sejak kecil, lahir pada tanggal 16 Agustus 1964 di Parit Muda, Kelurahan Tanjungbatu Kota, Kecamatan Kundur, Kabupaten Karimun. Ia anak kedelapan dari delapan bersaudara. Dalam keluarga yang sederhana, Aunur Rafiq tumbuh dengan tinggal di rumah sederhana. Ayahnya merupakan Kepala Sekolah Dasar Negeri 006 Kundur yang pertama.

Ayahnya, Ismail bin Muhammad Jaus, adalah seorang pria keturunan Aceh dan Peranakan Melayu, sedangkan ibunya, Gaswarni binti Karto Diwio, adalah seorang perempuan Jawa asli dari Purworejo, Jawa Tengah. Dalam darah Aunur mengalir keberagaman budaya Indonesia.

Sebagai seorang anak, Aunur tumbuh besar di Tanjung Batu. Dia menghabiskan masa kecilnya bermain layang-layang dan gasing bersama teman-temannya.

Sejak masa kecil, Aunur Rafiq dikenal sebagai sosok yang suka bergaul, murah senyum, dan aktif dalam berbagai kegiatan Aktivitasnya semakin bertambah saat ia bergabung dengan Remaja Batu Dua (Rembad) Kundur.

Di didik Tekun, dan Ulet dan Menjadi Penjual Kue Putu Piring Keliling

Kisah masa kecil Aunur Rafiq di Karimun dapat dijadikan inspirasi, dia dididik ibunya untuk memiliki tekad yang kuat. Dia seorang anak yang selalu dekat dan sangat menyayangi ibunya, begitu pula ibu terhadap dirinya.

Aunur diajari ibunya cara membuat dan mendagangkan kue yang lezat, karena dalam urusan memasak dan menjual kue putu piring ibunya sangat ahli. Ibunya merupakan seorang penjual kue putu piring yang terkenal di daerah mereka.

Setiap pagi, Rafiq selalu ikut membantu sang ibu membuat adonan kue putu piring dari beras. Mereka berdua menghabiskan waktu bersama di dapur, mencampurkan bahan-bahan dengan hati-hati, dan merasa senang ketika kue putu piring berhasil dijual habis ke pelanggan setianya.

Meskipun sibuk dengan tugas-tugasnya sebagai pelajar, dia tak pernah absen membantu ibunya dalam bisnis kue putu piring. Setelah pulang sekolah, Rafiq sering mengantarkan dagangan kue putu piring ke pelanggan di sekitar lingkungannya.

Di sekolah, Rafiq pun sering berbagi kue putu piring kepada teman-temannya, membuat mereka senang dengan makanan tradisional yang lezat itu. Dia merasa bangga dapat memperkenalkan kuliner khas daerahnya kepada orang lain.

Aunur tidak pernah malu dalam menawarkan dagangannya. Mentalnya siap dengan segala kesederhanaan. Ia adalah sosok yang ringan tangan membantu siapa pun, terkhusus ibu dan ayahnya. Sehingga ia terdidik dengan matang, terbentuk karakter saling tolong menolong antar sesama.

Kesulitan Ekonomi untuk Meraih Pendidikan

Pada tahun 1980, setelah menyelesaikan pendidikan di SD dan SMP, Aunur menyadari bahwa Tanjung Batu tidak memiliki SMA. Dengan tekad yang kuat, dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Tanjung Balai Karimun.

Aunur Rafiq, seorang anak dari keluarga guru yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, bercerita tentang masa kecilnya di Tanjung Batu. Meskipun orang tuanya hanya mengandalkan gaji kecil sebagai guru, Aunur Rafiq dan saudara-saudaranya tetap bersemangat dalam mengejar pendidikan.

Tahun 1983, saat pembukaan APDN, Aunur Rafiq mengikuti ujian bersama teman-temannya, termasuk Pak Suhajar yang satu SMP seperti dirinya. Meskipun Pak Suhajar berhasil lulus, Aunur Rafiq tidak beruntung dan tidak diterima. Meski kecewa, hal itu tidak menghentikan semangatnya.

Aunur Rafiq tidak menyerah dan mencoba mencari pekerjaan. Ia bekerja sebagai tenaga honorer serabutan di kantor Iuran Pendapatan Daerah (IPDA) di Tanjungpinang. Meski tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, ia tidak berputus asa guna meraih Pendidikan dan menuntut ilmu.

Aunur Rafiq juga mengungkapkan bahwa dalam kehidupan, ada rahasia dan jalan keluar yang diberikan oleh Allah SWT, asalkan kita berusaha, berdoa, dan tetap optimis.

 

Merantau Ke Tanjungpinang Kerja Serabutan, Anak Honorer dengan Gaji Rp.20.000/bulan ini Yang Menjadi Bupati Karimun

Usai tidak lulus masuk APDN, Aunur Rafiq sempat menganggur. Ia pun kerja serabutan dan belum memiliki arah tujuan yang pasti dalam menempuh perjalanan hidup. Pada tahun 1984 ia di terima menjadi Honor Daerah di Kantor Iuran Pendapatan Daerah (IPDA) di Tanjungpinang. Ia tetap bersemangat dan berusaha untuk meraih cita-citanya menjadi seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil).

Saat menjadi Honorer, Rafiq hanya mendapatkan penghasilan sebesar Rp.20.000/bulan. Angka yang sangat kecil pada saat itu, namun ia tetap selalu mensyukuri nikmat yang telah di berikan daripada hidup menganggur.

Pada tahun 1985, Aunur Rafiq akhirnya mengikuti test dan diterima sebagai CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) sebagai staf Dinas Pertanian Kabupaten Kepulauan Riau, yang saat ini menjadi Kabupaten Bintan.

Ini merupakan langkah besar dalam perjuangannya. Ia mulai merasakan peningkatan penghasilan yang memberikan kebahagiaan tersendiri baginya dan keluarganya.

Meskipun telah menjadi CPNS, Aunur Rafiq tidak berhenti berjuang. Pada tahun 1986/1987, ia berhasil diterima di APDN melalui jalur tugas belajar. Dengan semangat tinggi, Aunur Rafiq menyelesaikan pendidikannya di APDN selama tiga setengah tahun.

Di masa pemerintahan Presiden Soeharto, Aunur Rafiq juga merasakan kenaikan gaji bagi para pegawai negeri. Meskipun kenaikan tersebut mungkin tidak signifikan bagi beberapa orang, bagi Aunur Rafiq dan rekan-rekannya, hal itu sangat berarti dan membawa kegembiraan.

Aunur Rafiq menyadari betapa berharganya setiap peningkatan gaji yang diperolehnya. Dalam perjalanan hidupnya, dari seorang honorer dengan gaji Rp. 20.000/bulan hingga menjadi seorang CPNS dengan gaji Rp. 37.000/bulan, ia belajar untuk menghargai setiap kemajuan yang ia capai

Melalui perjuangan dan semangat pantang menyerahnya, Aunur Rafiq berhasil melampaui batas waktu yang ada. Meskipun awalnya tidak mampu kuliah dan menghadapi banyak kendala, ia membuktikan bahwa tidak ada batasan waktu dalam menuntut ilmu dan meraih impian. Aunur Rafiq terus melangkah maju. Ia membagikan pesan inspiratif kepada pembaca, bahwa tidak ada batasan waktu dalam menuntut ilmu dan meraih kesuksesan.

Kita tidak pernah tahu bahwa kita akan jadi apa dalam perjalanan hidup. Rafiq hanya berjuang dan merebut impian untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil. Ia tidak tahu bahwa di takdirkan memimpin sebuah daerah dan menjadi Bupati Karimun selama 2 periode.

 

Kenangan Di Dabo, Mendirikan Kantor, Ditolak Warga Menjadi Lurah hingga Kisah Sisa Uang Seribu Rupiah

Setelah lulus dari APDN, Aunur Rafiq ditugaskan di Dabo Singkep selama lima tahun. Di tempat baru ini, ia belajar menghadapi tantangan baru sebagai seorang pegawai pemerintahan. Meskipun penuh dengan kesulitan, Aunur Rafiq tidak pernah berhenti berusaha memberikan yang terbaik untuk masyarakat.

Namun Ketika dia di tunjuk untuk menjadi Lurah Dabo, warga disana menolaknya. Warga tidak percaya dengannya. Siapa dia tu? Pendatang di tu? Tak tau ujung pangkal, dating kesini nak jadi Lurah. Pertanyaan dan serangan ini selalu ia dengar di tengah-tengah masyarakat Dabo. Namun bagi Aunur, ini adalah tantangan baru yang harus di buktikan dengan niat pengabdian dan kesabaran.

Alhamdulillah dalam waktu 3 bulan menjabat ia akhirnya di terima warga. Ia pun berusaha mempersatukan semua tokoh masyarakat di sana, bekerja melayani warga dan bergotong royong Bersama tanpa kenal Lelah. Yang pada akhirnya melantik RT dan RW se-Kelurahan Dabo pada tahun 1993 di Gedung nasional Dabo.

Rafiq berkisah, bahwa ia juga membantu dan menyiapkan nama-nama jalan serta nomor-nomor rumah warga. Rafiq menyiapkan bahan dari seng, agar warga di mudahkan dalam mengetahui nama jalan dan alamat rumah.

Tak luput juga kisahnya tentang Kantor Lurah di Dabo menumpang di salah satu Gedung yaitu Wisma Ria, Rafiq berinisiatif mengajak bawahannya di Kelurahan dan di bantu warga mendirikan Kantor Kelurahan melalui sumbangan-sumbangan warga disana. Akhirnya Kantor lurah tersebut tegak berdiri dan masih di gunakan sampai saat ini.

Kenangan lainnya di Dabo Singkep adalah Ketika menjadi lurah tetapi hanya cukup beli nasi sebungkus. Saat itu ia tinggal sendirian dengan menyewa rumah kecil di Kampung Sungai Lumpur, Dabo.  Rafiq tidak memilik kendaraan, sementara uang tinggal seribu rupiah.

Kemudian Rafiq meminjam motor kawannya untuk membeli sebungkus nasi padang seharga Rp.700,-. Sisa Rp.300,- ia belikan rokok Gudang Garam Filter. Usai membeli nasi dan sebungkus rokok, Aunur pun ingin Kembali kerumah untuk melepaskan rasa laparnya.

Dalam perjalanan pulang, ia di kejutkan gonggonan anjing yang tiba-tiba mengejarnya. Ia terperanjat bukan kepalang, hingga menarik gas motor sekuat-kuatnya membuat stang motor bergoyang dan pada akhirnya nasi yang baru saja di belinya jatuh ke tanah.

Akhirnya apa yang terjadi? Nasi yang jatuh tersebut membuatnya tak bisa memakannya, namun anjing yang mengejarnya itu yang memakan nasi padang  tersebut.

Rafiq pulang dan merenung, rasa laparnya terus di rasakannya. Ia merenung tersandar di depan pintu rumah sambil menghisap rokok yang baru saja di belinya itu dan di temani segelas air putih untuk mengikhlaskan apa yang sudah terjadi.

Rafiq berkesimpulan, itu bukan rejeki saya. Tapi itu memang rejeki dari Tuhan Semesta Alam untuk anjing yang mungkin juga tengah lapar. Ia pun mengikhlaskan nasinya untuk anjing yang telah mengejarnya. Rafiq berkeyakinan bahwa esok ada rejeki lain yang akan dia dapatkan dari pintu-pintu tak terduga.

Setelah sekian lama menjabat, sampailah pada titik penghujung masa jabatan menjadi Lurah. Aunur Rafiq di pindah tugaskan. Warga pun bersedih sampai menangis meneteskan air mata, tidak rela Lurah yang awalnya mereka tolak harus pindah tugas. Selama di sana, kepemimpinan dan sentuhan Rafiq terhadap warga begitu terasa dan mempesona.Sehingga pada waktunya ia dan warga harus berpisah, semua tak sanggup menerima kenyataan yang ada.

Namun pada akhirnya, warga selalu mendoakan kebaikan-kebaikan kepada Rafiq. Sehingga doa-doa tersebut di wujudkan Allah SWT mengantarkan Aunur Rafiq menjadi Pemimpin di Kabupaten Karimun.

Pengalaman di Dabo menjadi pelajaran berharga bagi dirinya, dan ia belajar tentang makna sejati dari rezeki yang datang dari Allah SWT. Kisah menyentuh tentang penolakan terhadap dirinya dan nasi yang ia beli dimakan anjing menjadi simbol dari takdir dalam menghadapi kesulitan dalam hidup, tantangan, kebersamaan, kasih sayang dan keikhlasan.

Jalan Panjang Pengabdian, Melayani Warga di berbagai daerah

Karir Aunur Rafiq sebagai pegawai negeri dimulai pada tahun 1985 sebagai staf Dinas Pertanian Kabupaten Kepulauan Riau, yang saat ini menjadi Kabupaten Bintan di Tanjungpinang. Ia kemudian berpindah-pindah tugas dari Tanjungpinang ke Dabosingkep, kembali ke Karimun, pindah ke Pekanbaru, tugas di Batam, dan kembali lagi ke Karimun.

Seiring berjalannya waktu, Aunur mengalami berbagai pengalaman kepemimpinan. Ia pernah menjadi Plt. Lurah Gebang Kampung, Lurah Bulan Lintang, dan juga Lurah di Tanjung Riau. Pada tahun 2000, saat pemekaran Kabupaten Karimun, Aunur pulang ke kampung halamannya dan menjadi camat pembantu di Kundur Utara.

Pada tahun 2002, Aunur diangkat menjadi camat di Kundur dan menjabat hingga tahun 2005. Selanjutnya, dia dilantik sebagai Kabag Umum

Jalan Panjang ini membuatnya belajar tentang kepemimpinan dalam realitas kehidupan Bersama warga. Ia tidak lagi di hadapi banyak teori-teori, tapi lebih kepada praktek Kepemimpinan langsung. Sehingga membuatnya matang dalam pengabdian diri.

Selama perjalanannya dalam dunia birokrasi, Aunur Rafiq menjabat berbagai posisi seperti staf kantor camat, lurah, dan staf di kantor Bupati Karimun. Dalam perjalanannya  Aunur Rafiq tetap menjaga sikap rendah hati. Ia terus belajar dan menuntut ilmu dan berkesempatan meraih gelar sarjana di Universitas Sumatera Utara, gelar Strata 2 di Universitas Padjadjaran Bandung, dan gelar Doktor Ilmu Pemerintahan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor.

Aunur Rafiq menceritakan perjalanan karirnya yang mengesankan. Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai pegawai negeri, ia berhasil mencapai puncak karirnya dengan menjadi seorang Bupati. Aunur Rafiq berbagi tentang pengalaman kepemimpinannya dan bagaimana ia berusaha untuk melayani masyarakat dengan baik serta membawa perubahan positif dalam daerahnya

Karier politiknya di mulai pada tahun 2005, selama enam bulan Aunur terjun ke dunia politik sebagai calon Wakil bupati mendampingi Nurdin Basirun. Bersama-sama, mereka memimpin Karimun dari tahun 2006 hingga 2011. Berlanjut ke periode kedua 2011 hingga 2016.  

Pada tahun 2015, Aunur Rafiq sempat menjadi Pelaksana Tugas Bupati Karimun dan kemudian ikut pilkada dan terpilih sebagai Bupati Karimun yang definitive dalam periode pertama. Aunur maju sebagai bupati sendiri pada periode berikutnya bersama Anwar Hasyim.

Di tahun politik 2020, Aunur Rafiq maju Kembali Bersama Anwar Hasyim untuk kedua kalinya. Dan Kembali memimpin Karimun unutk masa bhakti 2021-2024.

Dalam kepemimpinannya sebagai Bupati Karimun, Aunur Rafiq berhasil membawa Kabupaten Karimun meraih penghargaan Adipura Kirana untuk pertama kalinya. Namun, impian Aunur Rafiq tidak berhenti di situ. Ia memimpikan pengembangan bandara Raja Haji Abdullah dan pembangunan jembatan di Karimun untuk mendorong kemajuan wilayah tersebut.

Bandara Raja Haji Abdullah memiliki potensi yang besar karena letak strategisnya dan konektivitas dengan wilayah lain di Kepulauan Riau. Dengan populasi penduduk yang mencapai 250.511 jiwa, serta wilayah yang berbatasan dengan Singapura dan terhubung dengan Batam, Kabupaten Lingga, dan Kabupaten Meranti, bisnis penerbangan di Karimun menjadi peluang yang menjanjikan.

Dalam perjalanan hidupnya, Aunur Rafiq menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, namun ia terus berusaha yang terbaik untuk Kabupaten Karimun. Ia menyadari bahwa kesuksesan tidak terlepas dari dukungan dan kerja sama seluruh masyarakat.

Setelah menjalankan masa jabatannya sebagai Bupati Karimun, Aunur Rafiq tidak berpikir terlalu jauh tentang masa depannya. Ia akan tetap bekerja hingga akhir masa jabatan dan setelah itu, mungkin ia akan menikmati pensiun sambil menimang-nimang cucu. Bagi Aunur Rafiq, menjadi duduk di kedai kopi sambil ditemui dan diberi salam oleh orang-orang masih merupakan kebahagiaan yang sederhana namun berarti baginya.

Demikianlah jalan Panjang pengabdian Aunur Rafiq, seorang birokrat yang gigih, pemimpin yang visioner, dan pejuang pembangunan bagi Kabupaten Karimun. Dengan impian dan kerja kerasnya, ia berharap dapat mewujudkan yang merata dan berkeadilan demi kemajuan Karimun untuk generasi sekarang dan masa mendatang.

Sebagai seorang pemimpin yang berdedikasi untuk melayani masyarakat Karimun. Aunur membagikan pemikiran dan pengalamannya dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat, serta bagaimana dia terus memotivasi diri untuk terus berkembang dan berkontribusi untuk kemajuan daerahnya.

 

Ada Cinta di Balik Dedikasi

Kisah Cinta dan Bahtera Aunur Rafiq dan Raja Azmah

Raja Azmah, seorang wanita berusia 25 tahun saat itu, ia wanita yang ceria dan penuh semangat, menceritakan pertemuan pertamanya dengan Aunur Rafiq pada tahun 1984. Di tempat itu, ia secara tak sengaja bertemu dengan seorang pria yang bernama Aunur Rafiq dalam Diklat Pra Jabatan.

Keduanya saling berkenalan dan menjalin persahabatan. Meskipun pada awalnya hanya sebagai teman, saat itu belum ada benih-benih rasa suka satu sama lain. Semua berjalan seperti pertemuan biasa.

Pertemuan Raja Azmah saat itu juga di karenakan Nomor Induk Pegawai (NIP) yang berurutan antar mereka. Aunur diatas urutan Raja Azmah. Aunur dan Raja Azmah, yang keduanya telah menjadi pegawai negeri sipil (PNS), saling menjalani tugas dan kesibukan mereka masing-masing. Aunur bertugas di Dinas Pertanian, sementara Raja Azmah ditugaskan di Kantor Camat Tanjung Pinang Timur. Mereka tidak tahu bahwa takdir sedang mempertemukan mereka.

Setelah mengikuti diklat pra jabatan, kemudian juga tanpa di sengaja mereka pun ditugaskan untuk ikut Diklat sebagai bendaharawan di Pekanbaru selama beberapa bulan, Aunur dan Raja Azmah semakin dekat dan tak terpisahkan. Mereka merasakan kenyamanan dan kecocokan satu sama lain, sehingga membuat mereka semakin yakin bahwa mereka berdua adalah jodoh yang ditakdirkan bersama.

Aunur dan Azmah sering di bilang sama kawan-kawannya bahwa mereka akan berjodoh, karena pertemuan NIP dan Diklat. Ini menjadi bahan ledekan kawan-kawannya.

Seiring berjalannya waktu selama pelatihan, benih-benih rasa suka mulai tumbuh di antara mereka. Mereka sering berada di situasi yang sama, dan kecocokan antara mereka semakin terlihat jelas. Meskipun memiliki perbedaan usia tidak begitu jauh, hal itu tidak menghalangi kisah cinta yang mulai bermekaran di hati keduanya.

Tak lama setelah itu, Aunur dan Raja Azmah memutuskan untuk menikah. Pada tahun 1991, ikatan suci pernikahan pun resmi mengikat mereka berdua. Seiring berjalannya waktu, mereka telah mengarungi bahtera rumah tangga selama lebih dari tiga puluh tahun.

Tidak dapat dipungkiri, dalam rumah tangga pasti ada suka duka. Aunur dan Raja Azmah tidak luput dari hal tersebut. Namun, mereka selalu berusaha untuk menghadapinya dengan bijaksana dan dewasa. Suka cita dan kebahagiaan bersama anak-anak dan cucu-cucu mereka menjadi penguat dan motivasi untuk mengatasi setiap tantangan dalam kehidupan rumah tangga.

Kesibukan Aunur sebagai seorang kepala daerah tidak jarang membuatnya harus sering berada di luar kota. Namun, meskipun begitu, Aunur selalu berusaha untuk pulang dan bersama keluarganya setiap kesempatan yang ada. Raja Azmah memahami betul tuntutan tugas Aunur sebagai seorang pemimpin dan mendukung sepenuhnya setiap langkah yang diambil oleh suaminya.

Kini, cinta Aunur dan Raja Azmah telah berbuah manis dengan kehadiran dua orang putri mereka yang telah menikah dan memberikan cucu-cucu yang mungil dan lucu. Kebersamaan dan kebahagiaan keluarga menjadi prioritas utama bagi pasangan ini.

Dalam perjalanan hidupnya, Aunur Rafiq dan Raja Azmah terus mengukir cerita indah dan inspiratif tentang cinta dan keluarga. Meskipun perjalanan cinta mereka dimulai dari pertemuan di acara Diklat Pra Jabatan, takdir telah menyatukan hati mereka dalam ikatan suci pernikahan, dan mereka terus bersama melalui suka dan duka, mengarungi samudra kehidupan dengan penuh cinta, pengertian, dan kesetiaan.

Tulus Memikul dan Mengantar Beras ke Rumah Gurunya

Di sebuah lapangan terbuka yang dikelilingi oleh warga yang antusias, seorang pria berdiri tegak. Itu adalah Aunur Rafiq, seorang Bupati Karimun. Tatapan matanya penuh harap dan tekad untuk melayani masyarakatnya dengan sepenuh hati.

Namun, tatapan Rafiq tiba-tiba terpaku pada satu sosok di tengah kerumunan. Sosok itu adalah seorang ibu lanjut usia, dikenal sebagai  Ibu Wis. Dia adalah seorang guru yang pernah mengajar Rafiq ketika masih bersekolah di SMA.

Tak lama setelah melihat Buk Wis, Rafiq memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada gurunya itu untuk berbicara di depan semua orang. Ibu Wis tampak bangga dan terharu mendapatkan kesempatan tersebut. Dengan tatapan penuh kehangatan, dia mulai berbicara.

"Hari ini saya berterima kasih karena dapat bertemu dengan anak didik saya, Aunur Rafiq. Dia adalah anak yang sangat penyantun, penyayang, dan patuh. Saya sangat terharu karena dia tidak pernah bermasalah di sekolah," kata Buk Wis dengan suara gemetar.

Dalam penyampaiannya, Ibu Wis mengenang masa lalu ketika Rafiq adalah muridnya. Dia menggambarkan Rafiq sebagai sosok siswa yang selalu siap membantu sesama. Buk Wis juga menceritakan tentang masa ketika guru-guru di SMA mendapatkan jatah beras, dan Rafiq selalu dengan sukarela membantu mengantarkan beras tersebut ke rumahnya dari sekolah.

Mendengar cerita ini, Rafiq tak kuasa menahan air mata. Dia mengusap pipinya dengan wajah yang menerawang, teringat akan masa-masa indah bersama gurunya itu.

Saat Buk Wis selesai berbicara, dia tak kuasa menahan perasaannya dan memberikan dukungan pada Rafiq. "Mari kita semua, mendukung Aunur Rafiq. Dia telah membuktikan kemampuannya di periode pertamanya, banyak hasil yang telah dia capai. Dia dan pasangannya adalah pemimpin yang tepat untuk Karimun," ujar Buk Wis dengan suara gemetar.

Dengan dukungan penuh dari gurunya, Rafiq merasa begitu tersentuh dan haru. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya, wajahnya memerah dan titik-titik air mata mengalir deras.

"Saya sangat terharu atas dukungan dari salah seorang guru saya, Ibu Wis. Terima kasih, saya akan terus berjuang untuk Karimun. Semoga Allah meridhoi niat saya untuk kembali melanjutkan pembangunan di Kabupaten Karimun," kata Rafiq dengan suara terbata-bata.

Kisah ini adalah bukti nyata bahwa kebaikan yang kita tanam akan berbuah manis di masa depan. Rafiq tidak pernah menyangka bahwa kebaikan yang dulu ia berikan kepada teman-teman dan guru-gurunya akan mendapatkan balasan seperti ini.

Kisah ini mengajarkan kita tentang pentingnya menanam kebaikan dalam hidup kita dan bagaimana kebaikan itu dapat memberikan dampak positif bagi orang lain. Rafiq menjadi contoh yang nyata tentang betapa pentingnya menjadi panutan dan memberikan bantuan kepada sesama.

Seiring cerita ini berakhir, Rafiq merasa terharu dan bersemangat untuk melanjutkan perjuangannya sebagai Bupati Karimun. Dia bersyukur atas dukungan dan kepercayaan yang diberikan oleh gurunya, Ibu Wis. Kini, dengan harapan yang tinggi dan semangat yang membara, Rafiq berkomitmen untuk melanjutkan pembangunan dan memperjuangkan kemajuan Kabupaten Karimun.

Akhirnya, kisah nyata ini mengajarkan kepada kita bahwa kebaikan akan selalu mendapatkan balasan, dan dalam kasus Aunur Rafiq, buah dari kebaikan masa lalunya tumbuh menjadi penghargaan, dukungan, dan haru yang mengalir dari hati.

about-greenforet-img

Berita terbaru

upcoming-events-img-1

17

Jul

Alhamdulillah saya di katakan buta dan tuli bahkan tidak punya hati, saya terima itu dan tidak ada masalah. Namun semua pendapat itu keliru, terkait dengan tidak dapatnya warga keluar negeri belakangan…

Selengkapnya
upcoming-events-img-1

01

Jul

KHUTBAH BUPATI 'IDUL ADHA 1444 H

  • 14:28
  • Administrator

KHUTBAH BUPATI KARIMUN PADA PELAKSANAAN IBADAH SHALAT IDUL ADHA 1444 H   “Taat Kepada Sang Pencipta Peduli Terhadap Sesama”   “TAAT KEPADA SANG PENCIPTA PEDULI TERHADAP SESAMA”…

Selengkapnya
upcoming-events-img-1

05

Jun

Bupati Karimun Dr H Aunur Rafiq S. Sos M.Si Memimpin Rapat Persiapan Pelaksanaan Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Summit Tahun 2023 di Rumah Dinas, Senin (05/06/2023). Rapat dihadiri oleh Kakanwil BPN…

Selengkapnya
upcoming-events-img-1

12

May

Kita menjadi Tuan Rumah STQH, semoga membawa berkah

Selengkapnya
upcoming-events-img-1

09

May

    Insyaa Allah kita (Karimun) sebagai tuan rumah GTRA Summit 2023, semoga kita di permudah dalam segala urusan.

Selengkapnya
upcoming-events-img-1

09

May

Alhamdulillah, kami bersama PC IPHI & MTP IPHI KECAMATAN KARIMUN memperingati Harlah IPHI ke-33 Tahun 2023 Di Masjid Ibadurrahman Sungai Lakam Timur sekaligus Peringatan Nuzulul Qur'an & Berbagi…

Selengkapnya
video-icon

WATCH OUR LATEST CAMPAIGN VIDEO